CMS modules by everest poker.

8 Mitos Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut

Created on Monday, 05 October 2020
lubang
Kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut sangatlah penting. Namun, masih banyak mitos seputar kesehatan gigi dan mulut yang berkembang di masyarakat dan sayangnya banyak orang yang mempercayai hal tersebut sehingga menyebabkan kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan orang mempercayai mitos dengan alasan informasi tersebut telah didapat secara turun temurun dari orang tua ataupun karena banyak orang yang mempercayai sehingga menjadi ikut percaya tanpa pernah mencari tahu atau menanyakan kebenaran informasi pada dokter gigi. Berikut adalah sesi tanya jawab bersama narasumber drg. Marchella Hendrayanti Widjaja dan drg. Talisa Claudiary Sinatra mengenai beberapa mitos yang beredar seputar kesehatan ggi dan mulut.
  1. Ibu hamil tidak boleh ke dokter gigi.
    • Fakta : Ibu hamil tidak perlu kuatir untuk berkonsultasi ke dokter gigi saat memiliki keluhan di gigi. Walaupun tindakan gigi selama masa kehamilan memiliki risiko tertentu, terutama pada usia kehamilan trimester pertama dan ketiga, mengingat pada trimester pertama janin masih dalam proses pembentukan organ sehingga sangat rentan dipengaruhi oleh obat-obatan yang digunakan selama tindakan, sedangkan pada trimester ketiga dianggap berisiko karena sudah mendekati masa persalinan. Karena dokter gigi pasti akan menilai kondisi anda terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan dan berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk memastikan bahwa ibu hamil dalam kondisi yang aman untuk dilakukan perawatan gigi. (drg. Talisa)
  2. Jika mengalami sakit gigi, harus dilakukan pencabutan gigi.
    • Fakta : Tidak semua kondisi sakit gigi memerlukan pencabutan gigi. Perlu dipahami bahwa ada macam-macam kondisi yang menyebabkan sakit gigi dan memiliki cara perawatannya masing-masing. Misalnya, saat seseorang memiliki gigi yang berlubang dan sering ngilu jika kemasukan makanan atau makan/minum dingin. Lalu orang tersebut memeriksakan giginya ke dokter gigi. Dari hasil pemeriksaan rongga mulut, ditemukan ada gigi pasien yang karies (berlubang), tapi tidak dalam. Kondisi seperti ini biasanya dapat ditangani dengan penambalan gigi. Pemeriksaan gigi perlu dilakukan oleh petugas yang berkompeten. Oleh karena itu, jika mengalami sakit gigi atau permasalahan gigi dan mulut apapun, lebih baik konsultasikan dengan dokter gigi terlebih dahulu. (drg. Marchella)
  3. Pencabutan gigi atas dapat menyebabkan kebutaan.
    • Fakta : Pencabutan gigi tidak akan menimbulkan kebutaan. Banyak orang percaya bahwa mencabut gigi terutama gigi atas dapat menyebabkan kebutaan. Hal ini dipicu oleh adanya kepercayaan bahwa saraf gigi dan mata yang saling berhubungan. Padahal secara anatomi tidak ada hubungan secara langsung antara saraf mata dan saraf gigi. Mata dipersarafi oleh N. opticus yang jalurnya dari belakang mata hingga ke dalam otak, sedangkan gigi atas dipersarafi oleh N. maksillaris cabang dari N. trigeminus yang letaknya ada di sepanjang rahang atas. Namun apabila terdapat infeksi gigi atas yang berat, pencabutan gigi atas memiliki peluang mempengaruhi jaringan sekitar mata. Hal ini biasanya dikarenakan adanya penyebaran infeksi melalui darah atau penjalaran infeksi fascial spaces, contohnya pada kasus abses infraorbita. (drg. Talisa)
  4. Gigi yang putih adalah gigi yang sehat.
    • Fakta : Gigi yang lebih putih belum tentu lebih sehat. Ada banyak faktor yang mempengaruhi warna gigi. Warna alami gigi masing-masing orang seringkali tidak sama. Gigi anterior (depan) biasanya agak lebih kuning daripada gigi posterior (belakang). Semakin bertambah usia, gigi cenderung lebih gelap dan lebih kuning. Persepsi terhadap warna juga berpengaruh. Gigi dengan shade yang sama cenderung terlihat lebih putih pada orang dengan warna kulit lebih gelap, biasanya karena faktor kontras. Faktor cahaya juga berpengaruh. Pada penerangan yang berbeda, tingkat keputihan gigi juga bisa tampak berbeda. Konsumsi beberapa jenis makanan/minuman; misalnya kopi dan teh, bisa menimbulkan noda ekstrinsik pada gigi. Atau juga pada pasien yang mengalami kelainan pembentukan gigi, berbeda juga warna giginya. Pada pasien yang mengalami paparan fluor berlebih di masa tumbuh kembang gigi (biasa disebut fluorosis), giginya tampak berbercak-bercak putih, yang dalam bahasa kedokteran gigi disebut mottled enamel; dan masih banyak lagi. Di zaman sekarang ini, banyak orang ingin giginya lebih putih. Kemajuan di bidang kedokteran gigi juga sudah menunjang hal ini. Ada beberapa perawatan yang bisa meningkatkan estetika gigi, tetapi ada indikasi dan kontraindikasinya masing-masing, sehingga perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter gigi. (drg. Marchella)
  5. Semakin sering sikat gigi dan langsung menyikat gigi setelah makan akan membuat gigi lebih sehat
    • Fakta : Terlalu sering menyikat gigi dan langsung menyikat gigi setelah makan dapat menimbulkan kerusakan pada struktur gigi, khususnya email gigi yang berfungsi untuk melindungi gigi. Sikat gigi dianjurkan 2-3 kali sehari, minimal tiap selesai makan pagi dan sebelum tidur selama 2 menit dan dianjurkan untuk menunggu minimal 30 menit setelah makan untuk mencegah kerusakan email gigi. Menunggu selama 30 menit setelah makan dianjurkan karena kondisi pH rongga mulut biasanya sudah stabil. Setelah makan, umumnya kondisi rongga mulut dalam keadaan yang asam hal ini akan membuat email gigi lebih mudah rusak jika gigi disikat dalam keadaan asam. (drg. Talisa)
  6. Pembersihan karang gigi menyebabkan gigi goyang.
    • Fakta : Pembersihan karang gigi tidak merusak struktur jaringan penyangga gigi. Karang gigi sebenarnya terbentuk plak gigi yang mengalami mineralisasi; sedangkan plak gigi adalah lapisan film yang menempel pada gigi yang di dalamnya terkandung juga bakteri. Bakteri-bakteri di dalam plak dan karang gigi ini berpotensi menimbulkan keradangan pada struktur jaringan penyangga gigi. Jaringan penyangga gigi secara anatomis terdiri dari gingiva (atau gusi), sementum, ligamen periodontal, dan tulang alveolar. Akumulasi plak dan karang gigi pada gingiva di daerah sulkus dalam jangka panjang menimbulkan keradangan pada gingiva, biasa disebut gingivitis. Pada kondisi tertentu, gingivitis dapat berlanjut menyebabkan terbukanya sementum, rusaknya fiber ligamen periodontal, bahkan sampai pada kerusakan tulang alveolar. Kerusakan yang progresif ini disebut periodontitis, yang seringkali menyebabkan kegoyangan pada gigi. Jadi, pembersihan karang gigi sama sekali tidak merusak struktur jaringan penyangga gigi. Jika ada pasien yang setelah dibersihkan karang gigi mengalami gigi goyang, kemungkinan besar pasien tersebut sudah mengalami periodontitis. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh bakteri periodontal, tapi juga bisa sebagai manifestasi dari penyakit sistemik. Untuk mengetahui secara lebih detail jika mengalami keluhan tersebut, lebih baik berkonsultasi dengan dokter gigi yang merawat. (drg. Marchella).
  7. Penggunaan masker memicu bau mulut.
    • Fakta : Penggunaan masker tidak akan memicu bau mulut, karena masker yang letaknya di luar rongga mulut tidak akan mempengaruhi kondisi di dalam rongga mulut anda. Pada dasarnya, bau mulut dapat disebabkan karena adanya masalah kesehatan pada rongga mulut anda, misalnya kondisi gigi yang berlubang, penyakit gusi, karang gigi, tumpukan sisa makanan di dalam rongga mulut karena kebiasaan tidak sikat gigi atau menyikat gigi kurang tepat, terganggunya flora normal mulut akibat merokok dan memiliki penyakit sistemik lain seperti kelainan lambung, kencing manis, penyakit hati dan infeksi pada rongga sinus. Jika ada masalah bau mulut, segera konsultasikan ke dokter gigi terdekat untuk mengetahui penyebab pastinya dan mendapat penanganan yang tepat. (drg. Talisa).
  8. Orang yang sudah lanjut usia pasti mengalami gigi ompong.
    • Fakta : Sejujurnya, ini konsep pemahaman yang sangat salah. Proses penuaan memang mempengaruhi juga kondisi gigi dan mulut, tapi tidak selalu menyebabkan kehilangan gigi, atau yang bahasa awamnya kita sebut gigi ompong. Faktanya masih banyak pasien lanjut usia, kisaran 60 tahun ke atas yang memiliki kondisi rongga mulut yang masih prima, giginya masih lengkap semua. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, proses penuaan juga terjadi di rongga mulut kita. Namun, apabila orang tersebut rajin menjaga kebersihan gigi dan mulut, dan tidak lupa kontrol ke dokter gigi secara berkala, peluang gigi ompong masih dapat diminimalkan. Banyak orang memiliki persepsi bahwa gigi menjadi mudah rusak ketika bertambah usia, padahal tak jarang juga orang yang masih muda memiliki banyak problem gigi dan mulut. Memang usia tua merupakan faktor yang bisa mempengaruhi kerentanan terhadap penyakit, tetapi bukan tolok ukur mutlak bertambahnya kerusakan gigi. (drg. Marchella)
 

 

Fasilitas

  • Area Parkir yang luas
  • Food Court
  • Galeri ATM
  • Bakery
  • Ruang Tunggu Keluarga Pasien
  • Taman yang asri
  • Mini market

Hubungi Kami

RS Imanuel Way Halim

Jl. Soekarno Hatta No.1
Bandar Lampung
 
Telp : 0721-704900
Fax : 0721-704807
 

SMS center:

  • 081379550011
  • 085840637999
 
Email:
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Tuesday the 1st. Mengasihi dan Melayani
Copyright 2012

©